Kisah Inspiratif " Sufi, Pemuda dan seekor Kupu-kupu"

Muara Teweh│pa-muarateweh.go.id
Senin, 31 Mei 2021 telah dilaksanakan Upacara Pagi yang mana kali Pembina adalah Abdurahman Sidik, SHI yang juga Hakim Pengadilan Agama Muara Teweh dengan Pemimpin Upacara PPNPN Aresa Okta Ibrahim, S.Pd.
Dalam arahannya beliau menceritakan kisah inspiratif tentang " Sufi, Pemuda dan Seekor Kupu-Kupu".
"Suatu sore, seorang kakek tua pulang dari mengumpulkan ranting kayu bakar di gunung yang akan digunakan menghangatkan gubuknya yang dingin.
Dalam perjalanan pulang sang sufi berjumpa seorang pemuda yang baru saja menangkap seekor kupu kupu di genggaman tangannya. Pemuda ini ingin menguji sang sufi.
Pemuda itu mengajaknya untuk bertaruh, “pak kyai bagaimana kalau kita bertaruh?”
“Bagaimana bertaruhnya??,” tanya si sufi.
Coba tebak, kupu kupu dalam genggamanku ini hidup atau mati. Kalau kamu kalah, sepikul ranting itu jadi milikku,” jawab si pemuda.
Sang sufi setuju, lalu menebak, “Kupu kupu di dalam genggamanmu itu pasti mati.”
Sang pemuda tertawa ngakak, “Kamu Salah!!!”. Sambil membuka genggamannya, kupu kupu itu pun terbang pergi.
Sang sufi berkata, “Baiklah, ranting ini milikmu,” ujar sang sufi seraya menaruh pikulan rantingnya dan pergi dengan gembira.
Si pemuda tidak mengerti kenapa sang sufi begitu gembira, dalam hati pemuda itu hanya ada kegembiraan telah mendapat sepikul ranting pohon untuk dibawanya pulang.
Di rumah, ayah pemuda itu bertanya soal asal-muasal sepikul ranting pohon itu. Si pemuda dengan bangga menceritakan kisah sesungguhnya.

Ayahnya marah setelah mendengar cerita si pemuda, dan berkata, “Kamu mengira kamu benar benar menang? Kamu salah, sebenarnya kamu kalah, tapi tidak mengetahui bagaimana kalahnya.”
Si pemuda tambah bingung. Si ayah memerintahkan anaknya memikul rantingnya, berdua mereka mengantarkan kayu itu ke gubuk sang sufi dan meminta maaf kepadanya.
Sang sufi itu hanya mengangguk kepalanya sambil tersenyum tanpa bilang apapun. Dalam perjalanan pulang, si pemuda bertanya soal ketidak mengertiannya kepada ayahnya. Si ayah menarik napas panjang dan menerangkannya.
“Sufi itu sengaja bilang kalau kupu kupu itu sudah mati, baru kamu mau melepaskan kupu kupu itu, sehingga kamu menang. Kalau sufi itu bilang kupu kupu itu hidup, kamu pasti meremas kupu kupu itu dalam genggamanmu hingga mati, juga kamu yang menang. Kamu mengira sufi itu tidak mengetahui kelicikanmu?”
“Beliau kalah sepikul ranting pohon, tapi memenangkan cinta kasih. Ranting Pohon bisa didapat dan dicari kembali tapi kehidupan/nyawa jika sudah hilang tidak bisa kembali.”
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS.AL AN’AM). (aes)
